Hujan di bulan November tidak pernah sekadar turun; ia jatuh dengan penuh amarah, menghantam kaca jendela Flora & Fable seolah menuntut untuk masuk. Elara mengusap embun di kaca etalasenya, matanya menatap kosong ke arah jalanan berbatu yang mengilap dan sepi pejalan kaki. Cuaca seperti ini berarti satu hal: hari ini tidak akan ada pelanggan.
Ia menghela napas pelan, membiarkan uap hangat keluar dari bibirnya dan kembali mengembun di kaca. Di usianya yang menginjak dua puluh empat tahun, mewarisi toko bunga peninggalan neneknya adalah sebuah berkah sekaligus kutukan. Toko ini selalu beraroma seperti kenangan—campuran kayu manis, lumut basah, dan manisnya bunga lili—tetapi aroma nostalgia itu tidak bisa dipakai untuk membayar tagihan pemanas ruangan yang mulai menunggak.
Kring!
Suara lonceng kuningan di atas pintu berbunyi nyaring, mengejutkan Elara hingga gunting pemangkas di tangannya hampir terjatuh ke lantai. Udara dingin seketika menerobos masuk, membawa serta seorang pria tinggi yang basah kuyup.
Pria itu menutup pintu dengan tergesa-gesa. Ia mengenakan mantel panjang berwarna biru gelap yang meneteskan air ke lantai kayu toko, dan memegang sebuah payung hitam yang jerujinya sudah setengah patah. Rambut hitamnya acak-acakan, menempel di dahi dan menyembunyikan sebagian dari wajahnya yang bersudut tajam.
"Maaf," suara pria itu terdengar berat dan serak, seolah ia belum berbicara dengan siapa pun sejak ia bangun tidur. "Hujannya... badai di luar ternyata jauh lebih buruk dari perkiraan."
Elara buru-buru mengambil handuk kecil yang bersih dari laci kasir dan menyodorkannya dari balik meja kayu oak-nya. "Tidak apa-apa. Silakan pakai ini. Berteduhlah dulu."
Pria itu menatap handuk di tangan Elara selama beberapa detik, sedikit ragu, sebelum akhirnya menerimanya dengan gumaman terima kasih yang nyaris tak terdengar. Ia mengeringkan rambut dan menepuk-nepuk wajahnya. Saat ia menurunkan handuk itu, Elara baru bisa melihat matanya dengan jelas. Warnanya cokelat gelap, memancarkan tatapan lelah dan waspada yang entah bagaimana membuat Elara merasa enggan untuk memalingkan pandangan.
"Anda... mencari bunga untuk seseorang?" tanya Elara, mencoba memecah keheningan dan bersikap profesional, meskipun ia tahu tidak ada orang yang sengaja pergi mencari buket bunga di tengah badai seperti ini.
Pria itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, mengamati ember-ember seng berisi mawar, tulip, dan hydrangea. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada keindahan di sekitarnya. Ia tampak seperti seseorang yang lebih terbiasa memegang secangkir kopi hitam di malam larut daripada merangkai kelopak bunga.
"Tidak," jawabnya singkat. Ia terdiam sejenak, mengusap tengkuknya dengan canggung. "Maksudku... ya. Mungkin." Ia menghela napas panjang, terlihat sedikit frustrasi dengan ketidakjelasannya sendiri. "Aku hanya butuh satu tangkai. Apa saja. Asalkan tidak terlihat terlalu... berlebihan."
Elara tersenyum kecil. Ia keluar dari balik meja kasir, apron hijaunya berdesir lembut menyapu dedaunan tanaman hias di lantai. Ia berjalan pelan dan berhenti di depan sebuah keranjang anyaman yang berisi bunga-bunga dengan kelopak bertumpuk yang memikat.
"Bagaimana dengan Ranunculus?" Elara dengan hati-hati menarik satu tangkai berwarna kuning mentega pucat. "Warnanya hangat namun tidak mencolok. Dan menurut bahasa bunga, ini melambangkan daya tarik. Seseorang yang menerima ini akan merasa bahwa mereka sangat menawan di mata Anda."
Pria itu menatap bunga di tangan Elara, lalu menatap wajah gadis itu bergantian. Untuk sesaat, suasana di dalam toko terasa membeku, hanya diisi oleh suara ritmis tetesan air dari payungnya dan deras hujan yang menghantam atap.
"Aku akan mengambilnya," katanya, merogoh saku mantelnya untuk mengeluarkan dompet kulit yang sudah usang. "Tapi sebagai catatan, aku tidak akan memberikannya pada siapa pun."
Elara mengernyit bingung, namun instingnya menahan lidahnya untuk tidak bertanya lebih jauh. Ia membungkus batang ranunculus itu dengan kertas cokelat ramah lingkungan, melapisi bawahnya agar airnya tidak menetes, dan mengikatnya dengan seutas tali rami.
"Tiga dolar," ucap Elara sambil menyerahkan bunga itu melintasi meja.
Pria itu meletakkan selembar uang lima dolar yang sedikit basah di atas meja kayu. "Ambil saja kembaliannya. Untuk peminjaman handuknya."
Sebelum Elara sempat memprotes atau membuka laci uangnya, pria itu sudah membalikkan badan dan mendorong pintu. Angin dingin dan aroma hujan kembali menerpa wajah Elara.
"Tunggu, setidaknya beri tahu siapa nama Anda!" panggil Elara, setengah berteriak melawan suara gemuruh badai.
Pria itu berhenti di ambang pintu. Ia menoleh dari balik bahunya, menatap Elara dari balik helaian rambut basahnya.
"Julian."
Lalu, pintu tertutup rapat. Julian menghilang di balik tirai hujan lebat yang mengguyur jalanan kota, meninggalkan genangan air kecil di lantai kayu Flora & Fable, selembar uang lima dolar, dan sebentuk senyum tipis yang tak disadari mulai terukir di bibir Elara.
Itu adalah hari Selasa pertama. Dan tanpa Elara ketahui, Julian akan selalu kembali di hari Selasa berikutnya, membawa serta teka-teki dan keheningan yang perlahan-lahan mulai ia rindukan.